PEMILU legislatif (DPR, DPRD dan DPD) serta pemilihan presiden 2019 tidak lama lagi akan dihelat. Persiapan parpol peserta pemilu serta pasangan capres bisa dibilang sudah memasuki puncaknya. Namun yang menarik adalah kehadiran Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang terus menunjukkan performa positif menjelang babak akhir pemilu.
Aura positif yang diperoleh PSI tidak lepas dari hadirnya sejumlah caleg potensial yang dipercaya mampu memberi warna baru bagi DPRD. Selain itu, munculnya caleg perempuan muda PSI makin menambah kepercayaan publik akan masa depan DPR jika caleg-caleg ini bisa tembus ke senayan.
Berikut ini adalah 8 srikandi yang menjadi andalan PSI untuk merebut suara pemilih. Selain masih berusia muda, para caleg inipun memiliki pesona tersendiri karena sama-sama cerdas dan cantik.
1. GRACE NATALIE LOUISA
Di urutan pertama tentu milik sang Ketua Umum, Grace Natalie Louisa. Lahir 4 Juli 1982, Grace memulai karir di media televisi. Pernah menjadi reporter dan news anchor Liputan6 SCTV, lalu berlanjut ke ANTV dan TVOne. Selama menjadi jurnalis, Grace pernah mewawancarai beberapa tokoh internasional, diantaranya George Soros, Steve Forbes, Ramos Horta dan Abhisit Vejjajiva.
Kedekatannya dengan isu politik terus berlanjut. Di tahun 2012, Grace dipercaya menjadi CEO di Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Beberapa momentum politik penting dilewatinya bersama SMRC, termasuk Pemilihan Legislatif dan Presiden 2014.
Grace memantapkan diri untuk terjun langsung ke dunia politik dan memimpin PSI karena ingin ‘Rumah Indonesia’ yang akan dihuni oleh kita, anak-anak kita, saudara kita di masa yang akan datang, adalah Indonesia yang menjadi rumah damai buat seluruh suku, golongan, agama, ras dan keyakinan. Grace kini menjadi caleg PSI dari Dapil Jakarta III (Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Utara, Kepulauan Seribu).
2. RATU AYU ISYANA BAGOES OKA
Lahir di Jakarta 13 September 1980. Berawal dari Pemenang Favorit Pembaca Pemilihan Wajah Femina Tahun 2000, perempuan berdarah Bali-Manado ini kemudian lebih banyak dikenal sebagai jurnalis dan news anchor di sejumlah stasiun televisi. Mulai dari TransTV, TV7 (Trans7) hingga RCTI.
Jurnalisme telah membawanya ke dalam berbagai momentum penting nasional dan internasional. Beberapa yang selalu membuatnya haru adalah liputan tentang Tsunami Aceh dan Bom Bali II. Tidak hanya tokoh nasional, sejumlah tokoh internasional juga telah diwawancarainya seperti George W. Bush dan Hillary Clinton.
Sarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini juga berkesempatan meliput pemilihan presiden Amerika Serikat yang membawa Barack Obama ke kursi presiden tahun 2008 lalu. Selain tokoh-tokoh politik, Isyana juga berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan bintang-bintang di dunia sepakbola seperti Cesc Fabregas, Pep Guardiola, Robbie Fowler, Javier Zanetti dll.
Melalui sebuah surat terbuka berjudul “Segmen Terakhir dalam Rundown” Isyana pamit dari dunia jurnalistik dan resmi bergabung ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai Ketua. PSI menurutnya mampu menampilkan wajah politik yang tadinya terlihat rumit, menjadi sederhana dan bersahabat. PSI menurutnya adalah rumah yang ramah terhadap anak, kaum muda dan perempuan.
Kini Isyana menjadi caleg DPR RI dari dapil Banten III (Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kab. Tangerang)
3. TSAMARA AMANY
Tsamara Amany Alatas lahir di Jakarta, 24 Juni 1996. Menjalani pendidikan S1 bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina, ia dikenal publik lewat tulisan-tulisannya di berbagai portal daring tentang Presiden Jokowi, mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, dan isu-isu politik. Pada 2015, Tsamara diundang Jokowi ke Istana bersama para penulis Kompasiana.
Selain itu, ia juga pernah menjadi saksi dalam uji materi syarat calon independen dan turut mengajukan revisi UU Pilkada berkaitan dengan calon independen, menjadi staf magang Gubernur DKI pada Januari-April 2016 dengan tugas membantu Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), simplifikasi perizinan memulai usaha, dan meningkatkan peringkat izin memulai usaha dari 167 (2015) menjadi 151 (2016) dalam survei Bank Dunia.
Bersama dua temannya, Gaby dan Nita, mendirikan organisasi Perempuan Politik. Kini menjabat Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan maju sebagai caleg DPR RI dari dapil Jakarta II (Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Selatan, Luar Negeri)
4. DANIK EKA RAHMANINGTIYAS
Akrab disapa Sis Danik, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PSI saat ini sedang menyelesaikan Master di Psikologi Intervensi Sosial, Universitas Indonesia. Gadis berdarah campuran Madura-Jawa-Osing yang lahir di Jember, 25 April 1987 ini, adalah perempuan pertama yang menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ditangannya IPM meraih penghargaan Ten Accomplished Youth Organization tahun 2012 di Bangkok-Thailand.
Hobi yang digelutinya cukup ekstrim: wall-climbing, vespa, onthel, silat dan futsal. Prinsipnya, setiap manusia lahir merdeka, namun kemerdekaan individu bukan jadi alasan untuk egois satu sama lain. Nama Danik dikenal luas dalam gerakan sosial terutama yang berkaitan dengan pembangunan komunitas.
Prinsip Danik “No Risk No Gain. No Gain Without Spirit and Struggle.” Anak muda tidak boleh takut berpolitik. Bagi Danik politik bukan soal warisan yang menunggu surat wasiat. Jika anak muda ingin perubahan, maka tidak perlu menunggu, harus langsung ambil bagian. Bukan anak muda jika sabar menunggu. Itu yang kemudian menjadi alasan utamanya bergabung di PSI.
Danik menjadi caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur IV (Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember).
5. LILA ZUHARA
Lila Zuhara, perempuan kelahiran 3 November ini adalah seorang yang tidak mudah putus asa, gigih mencapai tujuan, perfeksionis dan tidak suka melihat kelemahan pada pekerjaan dan orang sekitarnya. Meski jarang berbicara, namun Lila memang terbilang sukses sebagai perempuan karir. Perempuan jebolan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) jurusan Ekonomi Manajemen ini tidak hanya ingin berkarir di bisnis, diwaktunya yang supersibuk itu, Sis Lila dipercaya sebagai Wakil Bendahara DPP PSI.
Merasa salut atas keberanian Sis Grace dan anak muda di PSI merupakan pemicu utama Sis Lila bersedia untuk bergabung, apalagi PSI ingin menampilkan partai dengan manajemen modern, “politik jauh dari cita-cita saya, tapi kadang saya merasa semua persoalan di negeri ini harus dimulai jika ada orang yang non-politik, porfesional yang bersedia mengurus partai politik.”
Menariknya, Lila Zuhara tidak memanfaatkan momen ini untuk menjadi caleg DPR RI. Dalam portal caleg PSI, nama Lila Zuhara tidak ditemukan.
6. DINI PURWONO
Dini Purwono lahir di Jakarta, 29 April 1974. Ia adalah pengacara yang berkecimpung sekitar 20 tahun di bidang pasar modal, merger, dan akuisisi. Lulus 2-1 dari Universitas Indonesia, ibu satu anak ini memperoleh gelar master dari Harvard Law School pada 2002 dengan beasiswa Fulbright Scholar. Pada 1997-2005.
Dini awalnya bergabung di firma hukum Hadiputranto, Hadinoto dan Partners (HHP). Posisi terakhir sebagai Senior Associate. Pada 2005-2008, Dini bergabung di PT Danareksa (Persero) sebagai Kepala Biro Hukum. Ia juga sempat bergabung di firma hukum Roosdiono dan Partners selama dua tahun sebelum akhirnya bergabung sebagai partner dari pemilik firma di Christian Teo & Partners (CTP).
Ia kini DPR RI untuk Dapil Jawa Tengah I (Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Kendal).
7. DARA ADINDA KESUMA NASUTION
Dara Adinda Kesuma Nasution lahir di Pematang Siantar, 4 Agustus 1995. Ia masuk ke Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI pada 2013. Semasa kuliah, Dara menjadi juara pertama dan finalis favorit Indonesian Innovation and Entrepreneurship Exhibition, UI (2015). Selain itu, Ia juga memenangkan lomba Media Matters Pekan Komunikasi UI (2016) dan menjadi juara pertama lomba Data Driven Journalism yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen, JARING dan Kantor Staf Presiden (2017).
Dara pun terpilih sebagai salah seorang peserta program dua tahun XL Future Leaders. Tak hanya mengisi hidupnya dengan kuliah dan berlomba, Dara aktif di pers mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Dara juga menjadi guru melek internet bagi siswa SD, serta aktif di projek ‘Teman Pubertas’.
Puncak prestasi Dara adalah ketika dinobatkan sebagai lulusan terbaik FISIP UI 2017. Ia memperoleh IPK 3,95. Untuk itu, ia diberi mandat berpidato mewakili seluruh lulusan UI saat wisuda pada akhir 2017. Dara kini menjadi caleg DPR RI untuk Dapil Sumatera Utara III (Pematangsiantar, Simalungun, Langkat, Binjai, Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Tanjung Balai, Asahan, Batubara)
8. SUCI MAYANG SARI
Konon seorang aktivis bukanlah orang yang berkata bahwa sungai kotor. Aktivis adalah orang yang bertindak membersihkan sungai. Panggilan sebagai aktivis itulah yang membawa Suci Mayang Sari, seorang arsitek yang pernah memenangkan lomba revitalisasi gedung tua “Kuntskring Gebouw” di Menteng, Jakarta, untuk masuk ke dunia politik.
Mayang adalah orang yang percaya bahwa politik harus diisi oleh orang-orang muda yang ingin melihat Indonesia baru. Indonesia yang kreatif, dinamis dan tidak terbelenggu oleh oligarki lama.
Panggilan yang sama pula yang dulu pernah membawa ia bersama para mahasiswa `98 turun ke jalan. Ia ada di tengah peristiwa pada 12 Mei 1998, saat terjadi penembakan atas aksi damai yang mengakibatkan empat kawannya, Elang Mulya Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie, gugur, dan kelak diingat sebagai pahlawan reformasi.
“Passion” atas dunia politik pula yang menggiring Mayang meninggalkan dunia arsitektur dan memilih menjadi wartawan di KBR 68H. Sebagai wartawan, ia terus memelihara jiwa aktivisme. Tahun 2004 ia ikut mendirikan Komite Darurat Kemanusiaan, untuk mensinergikan bantuan bagi para korban Tsunami Aceh. Ia juga berkontribusi memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang arsitektur untuk terlibat dalam pembuatan Peta Hijau Jakarta Kota, bersama komunitas arsitek muda Jakarta yang tergabung dalam “Green Map”.
Setelah tujuh tahun di dunia jurnalistik, ia bergabung dengan The Indonesian Institute, sebuah lembaga pemikiran dan kajian kebijakan publik.
Sambil bekerja ia menyelesaikan kuliah S2 pada tahun 2011, dan mendapatkan gelar master dalam bidang Corporate Social Responsibility (CSR) Universitas Trisakti, dimana ia terpilih menjadi salah satu lulusan terbaik. Tesisnya berjudul “Studi Komparatif, Mengenai Batas-Batas Tanggung Jawab Sosial Empat Perusahaan Minyak dan Gas di Indonesia” terpilih untuk dipresentasikan di hadapan 150 Professor, PhD dan para peneliti kawasan Asia Pasifik dalam konferensi International Society for Third Sector Research.
Ia sempat tinggal selama hampir tiga tahun di kota Bonn, Jerman, dari 2012-2014, sebelum akhirnya kembali ke The Indonesian Institute dan kemudian bergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Ia percaya, bersama PSI ia akan bisa mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang dipimpin orang-orang muda yang kreatif, yang melampaui batas-batas sekat suku dan agama. Dara kini menjadi caleg DPR RI untuk Dapil Jawa Barat III (Kab. Cianjur, Kota Bogor). (red)









Post a Comment